Salam

Assalamu'alaikum... Salam Sukses...,
Sobat, sang waktu selalu menawarkan kesempatan baik kepada kita. Mengapa kita selalu menampik tawarannya? Yuk, penuhi hari-hari kita dengan "nilai tambah" (bukan dengan "nilai kurang").
Niat baik adalah nilai tambah. Senyum ikhlas, optimisme, perkataan baik, kerja keras, ... semuanya itu adalah nilai tambah yang akan membuat hidup semakin "seru".
Lalu, bagaimana dengan isi blog ini? Hmm..., harapan gue, sih, begitu. Tapi, andai Anda temukan banyak 'nilai kurang' di dalamnya (dan itu pasti), yah... 'dicukupin' aja dengan saran, pendapat, dan semacamnya (tapi yang baik-baik, ya?) biar posting-posting selanjutnya makin oke punya dan semakin memberi banyak manfaat untuk pembaca lainnya.

Jumat, 03 Desember 2010

Nilai Estetika, Haramkah?

Suatu hal yang tidak bisa kita pungkiri, Allah swt. telah mengalirkan nilai estetika di dalam jiwa kita. Kita 'tersentak' bila mendengar nyanyian yang mengalir dari melodi yang indah. Jiwa segar karenanya. Musik bisa menjadi stimulus apabila pikiran kita apabila sumpek.Bukankah sering kali terjadi perasaan kita begitu mudah tersentuh hanya apabila merasakan kepiluan dan derita yang tertata apik dengan aliran melodi di TV. Ada orang yang terkadang menangis degan sembunyi-sembunyi ketika mendengarkan nyanyian Ebit G. Ade tentang Tuhan dan alam, Haddad Alwi dan Sulis tentang Rasul dan Ahlulbait, atau nasyid tentang Palestina.

Betapa sering jiwa merasakan kita berada di dalam deskripsi syair-syair mereka. Begitu hidup. Begitu kuat. Begitu nyata kita merasakannya mengalir dahsyat dalam relung kalbu. Dan airmata pun meneteslah. Dan jiwa pun plong-lah setelah itu. Dan semangat pun membaralah. Amboi! 

Namun suatu hal pula yang selalu mengganjal pikiran, betulkah semua nyanyian, musik, dan melodi itu adalah kendaraan setan untuk meninabobokkan manusia, yang mengantarkannya kepada kelalaian? Betulkah tafsiran ayat "lahw al-hadits" adalah nyanyian setan? Betulkah alat-alat musik diharamkan di dalam Islam karena semua itu?
Masih segar dalam ingatan saya ketika seorang aktivis dakwah 'mencak-mencak' dalam suatu penataran mubalig Yayasan MITRA Center, Kendari, karena mendengar suara elekton dan melihat saya memainkan instrumentalia.
"Musik adalah bid'ah! Tidak seorang imam mazhab pun yang membolehkannya!", dampratnya kepada saya setelah kembali ke kamar hotel tempat kami menginap.
"Kita ke sini mau ditatar jadi mubalig, bukannya mau bermain musik. Aku kecewa!", tambahnya.
Saya mencoba menenangkan perasaan. Memori saya berputar kembali kepada buku-buku yang memuat pandangan ulama tentang seni musik yang pernah kubaca.
"Tidak semua ulama juga mengharamkan, Akhi. Saya pernah membaca pendapat Syekh Mutawalli Sya'rawi tentang itu, bahkan pernah mengkajinya dalam karya ilmiah", komentar saya datar.
Tampak wajahnya memerah dengan jawaban itu, sehingga cepat-cepat saya mencairkan suasana yang mulai ‘hangat’ itu. "Saudaraku, kita ke mari untuk menjalin silaturahim dan mempererat ukhuwah, bukannya untuk bertengkar. Silaturahim kan wajib, sedangkan betengkar haram", kata saya kepadanya, "dan dalam pemahaman saya, ini adalah ikhtilaf yang tidak perlu kita pertengkarkan, karena tidak ada penyatuan pendapat tentangnya hingga kiamat tiba."
Alhamdulillah, dia terhenyak dengan jawaban itu. Wajahnya kembali berseri.
Di dalam perjalanan saya selanjutnya, saya mulai 'jatuh cinta' dengan nasyid yang disebut-sebut oleh sebagian aktivis dakwah sebagai seni musik alterntif.
Saya serasa menemukan format dalam nuansa dakwah yang baru. Tetapi, tidak semua orang menyukai nasyid dengan mengatasnamakan alasan syar'i. Seperti halnya demonstrasi atau berdakwah di legislatif, nasyid pun kembali dianggap bid'ah. "Semua sama," kata mereka, "tidak punya landasan syar'i".
Dus, kalau musik dan perasaan estetika itu haram, mengapa Tuhan melekatkannya dalam jiwa kita? Anda juga merasakannya, kan?
  والله أعلم بالصواب
Baca Selengkapnya...

Puisi-Puisiku (yang) Tercecer di Jalanan

Perpisahan

Perpisahan itu menghadang kita
Di persimpangan jalan
Kita pun sama terkesima
Untaian puisi panjang
Mengungkap kisah
Mengabadikan kesan

Ada perih dan rasa tidak rela
Mencecar langkah-langkah
Kembali
Seonggok cerita menggelantung di pelupuk
Merobek hening jiwa

Tetapi biarkanlah
Sebab di ujung lorong ini
Masa telah dibentangkan
Naviri perjuangan baru telah ditiup
Dengarlah, ia bergema ....

Hari ini tidak ada langkah gontai
Karena kita berpisah
Untuk seulas senyum
Saat ini dan esok hari.


Sucikan Dia

Dalam menunggu putusan-Nya
Hendaklah bersabar
Sungguh, jiwa rapuhmu
Ada dalam tatapan-Nya

Kini, sucikan Dia
Dengan pujian terhadap keagungnnya
Kala kakimu berdiri kokoh

Dan beberapa saat di kelam malam
Tadahkan tanganmu
Bertasbihlah
Bisikkan asma-Nya
Dan sewaktu terbenam bintang-bintang



Munajat

Ilahi...,
Cahaya-Mu menyoroti ajang gulita
Ketika insan terjerembab
Terperangah
Bisu...

Dalam sunyi alam tergetar
Saat kalam-Mu mengalun
Menyeruak relung hati
Yang sudah lama berbintik


Ketika Hati Berkata

Ada geletar sukma
Tasbih rasa
Sejuta pesona menggelayuti jiwa
Meski ada gumam di sana:
"Siapakah hamba?"

Alam seperti tak percaya
Ketika hati bercerita
Tapi harus dibuktikan
Itu bukan ilusi
Serta tipuan

Dan
Ketika hati bergelora
Diusirnya khayalan
Ditepisnya keraguan
Menuju rida Tuhan
Baca Selengkapnya...

Jumat, 16 Oktober 2009

Ingin Berubah? Ubah Pola Pikir Anda!




Suatu ketika, Nashruddin Hodja mengunjungi kawannya yang kaya dan berkata kepadanya, "Beri saya sejumlah uang."
"Untuk apa?" tanya teman kayanya itu.
"Saya mau membeli seekor gajah," jawab Hodja.
Mendengar jawaban itu, temannya memberi pendapat, "Kalau tidak punya uang, bagaimana kamu bisa merawat gajah?"
"Saya datang menemuimu untuk mendapatkan uang, bukan saran," kata Hodja.
Petikan di atas memang anekdot belaka, tapi kalau kita merenunginya dengan bijak, ada pelajaran yang disiratkannya.
Sesungguhnya, ada warning di sana: tidak ada yang bisa memberi jaminan akan keberhasilan Anda selain diri Anda sendiri. Jika Anda tertarik untuk membuat blog, "lakukan saja", walaupun itu bukan 'spesifikasi' Anda. Orang bijak berkata, "Cara terbaik untuk menghilangkan rasa takut adalah segera melaksanakan apa yang ditakutkan itu". Ya, Anda harus melakukannya.
Ubahlah pola pikir Anda. Bagaimana caranya? Anda bisa mencari mentor, namun suatu hal yang perlu dicamkan, mentor itu hanyalah sekadar fasilitator. Untuk berhasil, Anda sendirilah yang harus menjalaninya. Pikirkan dan jalanilah.
Berpikir bukanlah sesuatu yang tidak dapat berubah. Bahkan menurut Syahril Syam, seorang "Mind Programmer", cara berpikir hanyalah kondisi, seperti kondisi pikiran yang terjadi secara temporer, yang dapat dibentuk, dikendalikan, diubah, bahkan dapat diprogram, atau  menurut Adi W. Gunawan, ia dapat "di-install ulang".
Dalam buku The Secret of Attractor Factor, Syahril Syam menulis:
"Pola pikir adalah produk dari pengulangan. Apa yang Anda alami sebagai kumpulan dari pola pikir, tak lain dan tak bukan adalah pola persimpangan sinapsis yang kuat dan diwaranai oleh banyaknya neurotransmitter. Jika Anda ingin mengubah cara anda berpikir, Anda hanya tinggal memperlemah persimpangan sinapsis yang lama dan memperkuat sinapsis yang baru."
'Ala kulli hal, apabila Anda ingin berubah, "pilihlah kacamata baru untuk melihat kenyataan dan mulailah untuk sering-sering menggunakannya!"
Baca Selengkapnya...

Senin, 12 Oktober 2009

Menyoal Keabsahan Term "Radikalisme Islam"

Hotel Citra Mulia Palu, Sulawesi Tengah, 10 Oktober 2009. Jarum jam baru saja menunjukkan pukul 14.00 wita. Di hadapan 80 peserta Lokakarya Nasional bertajuk “Pengembangan Jaringan dan Kerjasama Pengasuh Pondok Pesantren dalam Menciptakan Budaya Damai”, seorang profesor menyampaikan makalah tentang radikalisme Islam. Menurutnya, akar radikalisme Islam dapat dilacak pada gerakan Wahabi, akhir abad ke-19.
Dalam makalah setebal 4 halaman, antara lain ia menulis,
“Lebih jauh, akar Wahabisme dapat ditemukan dalam pemikiran Ibn Taimiyyah, yang memprakarsai gerakan salafiyah, dan selanjutnya pemikiran Ahmad ibn Hanbal. Yang terakhir ini adalah pendiri mazhab Hanbali yang mengajarkan keutamaan sunnah daripada qiyas. Ia juga berpendapat bahwa Alquran adalah makhluq”.
Di sela-sela pembacaan makalahnya, sang profesor menyisipkan penjelasan singkat. “Itu pandangan sejarah yang saya baca tentang Wahabi pada awal kemunculannya”, imbuhnya, “tapi saya tidak tahu..., mungkin saja paham keagamaan kaum Wahabi sudah berubah moderat sekarang.”
Tidak ayal, makalah sang profesor memperoleh tanggapan serius dari peserta saat babak diskusi. Jamaluddin Hadi, mewakili Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Tengah, menyatakan keberatannya terhadap isi makalah. “Saya melihat makalah Bapak yang 4 halaman ini penuh dengan syubhat”, tandasnya berapi-api.
Menurut hemat penulis, mengidentifikasi Wahabi sebagai akar aksi-aksi kekerasan dalam kehidupan beragama merupakan langkah tergesa-gesa dan serampangan. Hal itu tidak akan berpengaruh banyak sebagai solusi bagi masalah gerakan radikal yang tumbuh dalam masyarakat muslim.
Bahkan sebaliknya, pencitraan Muhammad ibn Abdil Wahhab, Ibn Taimiyah, dan Ahmad ibn Hanbal, sebagai  orang-orang yang bertanggung jawab terhadap tumbuh suburnya gerakan radikalisme keberagamaan, justeru bisa menimbulkan ‘virus negatif’ yang akan menggerogoti bangunan ukhuwah Islamiyah di Indonesia. Tidak dapat diingkari, sejumlah organisasi massa (ormas) Islam di Indonesia punya relasi psikoideologis dengan Wahabi. Sebutlah, sebagai sampel, Muhammadiyah, Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), Persatuan Islam (Persis), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), merupakan ormas Islam yang memiliki hubungan itu. Meskipun secara psikoideologis “se-fikrah” dengan Wahabi, ormas-ormas Islam tersebut telah banyak memberi kontribusi dalam ranah dakwah di tanah air dengan tampilan yang santun.

Radikalisme, Adakah dalam Islam?
Sebelum menggulirkan tanggapan di atas, sesungguhnya, pertanyaan dasar yang menari-nari di benak penulis adalah, “apakah radikalisme itu?” dan “adakah radikalisme Islam?”.
Radikalisme secara etimologis adalah term yang terdiri atas 2 unsur: “radikal” dan “-isme”. Radikal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki 3 kemungkinan arti, yaitu (1) secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip), (2) amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan, dsb.), dan (3)  maju dalam berpikir dan bertindak. Dan, “-isme” adalah unsur tambahan, yakni sufiks (akhiran) yang bermakna “sistem kepercayaan berdasarkan politik, sosial, atau ekonomi”.
Dari pengertian di atas, radikalisme dimaknai oleh KBBI dengan 3 pemaknaan pula. Pertama, paham atau aliran yang radikal dalam politik. Kedua, paham atau aliran yang menginginkan pembaruan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Ketiga, sikap ekstrem dalam suatu aliran politik. Dari pengertian di atas, jelaslah bahwa radikalisme adalah sebuah aliran dalam gerakan sosial dan politik. Radikalisme sama sekali tidak dikenal dalam gerakan keagamaan.
Lha, lalu mengapa muncul istilah “radikalisme Islam”? Penulis belum menemukan rujukan tentang kapan munculnya istilah radikalisme Islam dan siapa memopulerkannya pertama kali. Yang jelas, term ini sangat populer di Indonesia seiring dengan merebaknya istilah-istilah bias lainnya, seperti “terorisme” dan “fundamentasme”. Karena radikalisme adalah term politik, penulis menduga keras istilah “radikalisme Islam” muncul untuk memenuhi “syahwat” politik kaum islamophobia. (Bersambung).


Baca Selengkapnya...
 
Memuat...

Mengenai Saya

Foto Saya
Tidak ada yang istimewa dalam riwayat hidup saya. Saya hanyalah 'orang biasa' yang mungkin tidak terlalu penting untuk 'di-ta'arufi'. Ibarat lirik sebuah lagu: "Ku bukan superstar/Kaya dan terkenal/ Ku bukan saudagar/Yang punya banyak kapal/Ku bukan bangsawan/Ku bukan priyayi/Ku hanyalah orang yang ingin dicintai" Saya hanyalah seorang 'pembelajar pribadi' yang benaknya selalu dipenuhi oleh rasa ingin tahu terhadap sesuatu yang baru (dan tentunya positif). Dan, blog ini serta layout-nya 'yang masih selugu ini' adalah salah satu wujud dari rasa ingin tahu tersebut. 'Ala kulli hal, saya punya hasrat, semoga blog ini bisa menjadi salah satu MEDIA dakwah bil-QALAM sehingga pembaca dapat memetik manfaat dan hikmah darinya.

QALAMedia Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template